Berproses Sesi Pertama (3)

Sambil menahan kantuk dan lemas siang tadi, karena hanya kurang dari 3 jam tidur dalam sehari, saya juga menahan emosi meledak-ledak.

Saya mencoba merenungkan dengan apa yang sedang terjadi kepada saya. Saya teringat beberapa kali dulu dekat dengan laki-laki, beberapa laki-laki yang menurut saya ramah dan terbuka. Mereka kebanyakan sudah berstatus dari pacaran hingga yang sudah menikah. Begitu terbukanya kami satu sama lain, sampai kadang lupa bahwa mereka sudah punya status bahkan buntut.

“Lho, kami hanya berbincang..,” begitu pembelaan saya. Padahal dulu, sering saya kebablasan menyampaikan sesuatu kepada mereka. Tentu, tidak terjadi berbarengan kedekatan saya antara laki-laki satu dengan yang lain.

Sampai ketika saya bertumbuh dewasa usia, saya semakin bisa memilah dan menjaga perasaan. Perasaan pasangannya tentu saja. Saya khawatir, jika posisi saya terbalik suatu saat nanti.

Bahkan sampai saya sering kontak dengan atasan saya dulu yang begitu luar biasa baiknya, kakak sempat mengira saya mau dijadikan istri kedua. Ih, padahal dia kan baiknya bukan ke saya saja. Sejak awal saya dekat dengan bos saya ini, saya bolak balik mengingatkan diri untuk tidak terbawa suasana, dia punya banyak tanggung jawab. Saya pun mencoba mengenalkan diri kepada istrinya, dan selalu ingatkan si bos kalau suka iseng, karena mulutnya itu suka berkata-kata manis kepada semua orang terlebih perempuan, saya sering berkata “laporkan ke bini yaa….”, Saya pun mengenalkan mas saya, dan terbuka dengan mas tentang si bos yang memang sangat baik hati ini.

Saya berpikir ulang, apakah saya sedang mengalami posisi kebalikan?

Saya kadang masih menyapa mantan pacar yang memang asyik diajak bincang trending topic, dan saling melemparkan opini lalu membahas soal penulisan. Sadar bahwa takut menjadi sebuah momok, saya selalu membicarakan mas di tengah pembicaraan kami dan bertanya tentang hubungannya dengan pacarnya yang sekarang. Kadang saya khawatir, kalau-kalau mas berpikir saya putus dari anak ini dan menjadikan mas sebagai pelarian.

Saya sering menilik hati sendiri apakah seperti itu? Tentu tidak, ada alasan mengapa saya putus dengan mantan, dan mengapa saya mau menerima cinta mas kepada saya. Tentu karena saya merasa lebih nyaman dan benih cinta pun sudah bertumbuh.

 

Saya menilik dan terus menyelidik, mengapa? Apakah karena pindah merasakan posisi perempuan-perempuan yang jangan-jangan cemburu dengan saya; Ataukah ada hal lain?

Bukankah pemikiran saya ini adalah sebagai pengakuan, penerimaan kesalahan saya dan ya, saya percaya sudah diampuni segala masa lalu yang tidak baik itu. Sudah lama berlalu.

Mungkin benar ada hal lainnya. Salah satunya adalah keraguan saya dengan diri sendiri yang mulai sibuk dan takut menjadikan waktu sebagai alasan menjadi datar kepadanya, dan pernikahan kelak menjadi sebuah seremoni belaka. Lagi-lagi, karena merasa rendah diri, apakah layak saya diterima, apakah bisa saya mendampinginya?

Saya pun juga menaruh kemungkinan ada campur tangan Tuhan kepada saya dan mas. Bagaimana saat ini kami sedang digodok untuk sebuah persiapan yang lebih matang, karena Tuhan tahu saya dan mas, keduanya memiliki pertimbangan yang harus lebih siap memandang ke depan. Jika dari mas mungkin dari kesiapan ekonomi, tetapi saya seorang perempuan yang cenderung pada kesiapan mental. Sok tahu, pasti mas juga butuh kesiapan mental itu.

Tuhan seperti menguji kesetiaan dan kemantapan seberapa dalam kami bisa terus mencintai dengan keadaan apapun, dari kasus yang sepertinya sepele hingga mungkin bisa meruncing jika tidak hati-hati menyikapinya.

Tuhan pun tahu, dan ingin saya lebih tahu seberapa besar saya mencintai mas dan adanya ketakutan untuk kehilangan dia. Menurutku, Tuhan mengijinkan saya merasakan hal itu untuk sebuah kemantapan.

Karena bahtera yang akan kami jalani berdua nanti haruslah dilakukan bukan sekedar ikatan cincin dan tandatangan di atas kertas, tapi keharusan sebuah kemesraan, hikmat, kepercayaan, kasih (dengan segala perintilannya dalam 1 Korintus 13) di dalam Dia.

Apa yang harus saya lakukan?

Tentu berserah kepadaNya, membiarkan DIA yang mengolah kami menjadi satu kesatuan yang baik, siap tempur, dan berdampak bagi kami pribadi maupun orang sekitar.

Saya mencintai mas, dan bersyukur ia meminta saya menulis dalam blog. Ini adalah ungkapan sebuah renungan. Satu tahap berproses ini kiranya segera berlalu dengan waktu yang tepat dan melegakan, siap menghadapi proses berikutnya.

Syukur kepada Allah. Berkah Dalem.

 

Iklan

Berproses Sesi Pertama (2)

Belum ada pindah bulan sejak tanggal pertunangan kami. Dan saya mulai menutup akun Facebook, menon-aktifkan sementara. Biar saja begitu sampai nanti bisa saya lega kembali. Ada apa? Mengapa tiba-tiba?

Alasan mula adalah kekesalan karena komplain dari kakak yang selalu komplain soal status dan postingan. “Malu lah, itu terlalu pribadi..”. Itu hanya sebuah tumpukan baju, baginya itu memalukan. Ya, saya sebenarnya ingin membuatnya malu bukan saya, karena apa yang harus saya lakukan lagi untuk menyadarkan kakak bahwa saya butuh bantuan, itu kan cuciannya sebagian.

Belum pindah hari, mas menyampaikan saran yang tertunda. Aku memaksanya menyampaikan hari itu juga, meskipun kami sama-sama tahu saya sedang mengerjakan deadline hingga subuh nanti. “Pilah mana yang mau diposting, apakah selalu seterbuka itu. Bagaimana nanti kalau sudah berkeluarga, apakah semua harus diposting?”

Saya tidak tahu bagian mana yang dia komplainkan. Terus terang tiga hari itu saya bisa mengirimkan 5-9 postingan sehari, apa saja yang melintas di kepala saya. Pikiran saya sedang aktif, emosi saya sedang bergejolak penuh dan harus dimuntahkan. Biasaya setelah itu saya akan hapus lagi.

Ketika tersampaikan semua itu kepada saya, saya memuncak. Apalah sebuah saran alih-alih saya semakin emosi dan bersikap defensif. Tetapi saya juga merasa begitu bersalah dan malu, di sana ada ada daftar pertemanan dari semua teman dan keluarga, saya pun berhati-hati untuk setting privasi post. Tetap saja, bagi mereka saya aneh, saya pun jadi merasa seperti alien kurang perhatian.

Saya non aktifkan saja. “Saya hanya kasih saran, kok malah diblok akunnya?” Tanya mas. “Supaya saya lebih tenang, ” jawab saya.

Ia menyarankan saya menulis di blog saja, yang sepi pengungjung mungkin baginya. Tidak tahu apakah karena begitu kelelahan secara fisik, pikiran, dan emosi saya menangis hingga subuh sambil menyelesaikan tugas-tugas yang harus dikumpulkan besok.

Saya bercerita kepada sahabat, saya butuh pelurusan pikiran, untuk mengelola emosi lebih baik. “An, kamu iyakan dan minta maaf. Iya, gak apa-apa Anna memang orangnya sangat terbuka dan bersahabat. Tapi, kita ini mau dibentuk olehNya menjadi lebih baik, salah satunya melalui orang terdekat. Apalagi dia calon suami kamu, kamu beri kebanggaan dan kehormatan bagi dia nanti kan ia yang mimpin kamu. Rendah hati, An. Rasanya sakit tapi kamu bisa, karena kita akan diperbaiki lebih baik. ” Siang ini, emosi saya sudah mulai mereda.

Namun masih dongkol. Apalagi dia menyebutkan kalimat, “kamu seperti ABG, tidak dewasa..” Kali ini gengsi saya berperan, dan itu pemicunya. Saya punya kenangan gak enak, yang menjadikan saya kehilangan masa kecil yang bahagia karena udah disuruh-suruh jadi dewasa yang standarnya saja absurd. Lupakan. Itu hanya sekedar teringat kalimat menyebalkan dan saya harus menghadapinya dengan cara berbeda, harus kali ini dari sudut pandang berbeda karena pertumbuhan usia saya.

Dongkol lainnya bukan karena gengsi, tapi kecemasan saya yang menjadi berlebih-lebih. Saya cemas, apakah saya bisa diterima di keluarganya? Saya yang seperti alien ini baginya. Saya cemas, apakah saya harus berubah menjadi orang lain, apakah saya harus kehilangan jati diri saya sedangkan saya sepertinya baru kemarin bisa berdamai dengan diri sendiri. Saya sulit untuk dinilai salah di mata orang lain. Saya kembali lagi menangis. Saya merasa hancur total dan gagal. Saya khawatir tidak diterima.

Dongkol kedua karena saya sedang tidak suka dengan salah satu temannya, seorang perempuan. Yang saya tahu dia memang sedang galau karena kehilangan ayahnya. Lalu, apa saya harus memaklumi ia sering chat dengan si mas? Darimana saya tahu? Bocah ini terang-terangan bilang ke saya, dan ijin untuk menggoda mas saya. Saya tidak tahu ia bercanda atau tidak. Pertama itu saya menanggapinya dengan santai.

Tapi melihat satu per satu dari foto cowok yang mirip mas saya ditunjukan ke mas, lalu lagi-lagi bilang: “saya masih boleh godain mas, mumpung belum nikah?” di foto pertunangan saya, dan comment yang nyentrik di foto mas saya. Saya terusik meskipun saya berusaha menanggapi dengan santai.

Saya begitu frustasi karena anak ini adalah adik asuh dalam kelompok belajar Kitab Suci yang baru saja mengundurkan diri. Kami, fasilitatornya, sedang berusaha  untuk mendekati anak ini kembali ke dalam kelompok. Saya frustasi..

Saya frustasi karena mas sedang badmood, dan tidak mungkin saya bisa berbicara dengannya meskipun dengan kepala dingin sekalipun. Semua akan terasa seperti tuduhan kepada anak ini, bahkan kepada mas saya.

Biasanya saya hanya mendiamkan dan memberi waktu kepada mas, dengan percaya dia akan bisa menghadapi moodnya. Begitulah ia tidak mau diganggu. Kali ini, saya begitu gelisah dan cemas, pikiran buruk memenuhi pikiran saya. Saya curiga, bagaimana jika mas malah chat dengan anak ini, dan ia memilih berbicara kepadanya bukan kepada saya.

Apa yang harus saya lakukan?

 

 

 

Berproses Sesi Pertama

Perjalanan sekira 7 bulan lagi menuju hari H.

Setelah mereka semua pamit pulang dari rumah kami, saya memerhatikan dalam-dalam cincin yang telah dipasangkan oleh ibunda kekasih tercinta. Kini si mungil emas itu melingkar di jari manis kiri saya. Saya dan mas menaiki jenjang lebih dalam dari kemarin, semenjak satu tahun lebih lalu kami sama-sama menerima untuk menjadi sepasang kekasih.

Terlalu cepatkah? Saya tidak tahu, tapi saya mencoba memantapkan hati. Bukan demi sebuah status. Mau diceritakan bahwa aku mencintainya secepat itu mungkin tidak ada yang percaya, bahkan bagian dari diriku yang lain pun berkata, “Bagaimana bisa?”.

Ah, pertanyaan itu hanya berdasarkan secara logika berpikir manusia, aku pun termasuk di dalamnya yang saat ini sudah sering menanamkan pentingnya berpikir kritis. Tapi apakah cinta bisa diterima dengan akal sehat?

Saya memantapkan hati, dengan masa-masa perkenalan lebih dekat dan meminta kepadaNya untuk kami benar-benar menunjukan siapa kami satu sama lain, dan bagaimana kami bisa menerima segala kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tentu saja, setahun tidak pernah cukup, bahkan seumur hidup pun.. Asalkan, saya punya prinsip utama yang bisa dipegang.

Mengapa saya mudah percaya? Kali ini karena doa dan restu dari orang tua, khususnya mama. Apa yang selalu diucapkan mama setiap saat itu tentang siapa dan bagaimana orang yang nanti menjadi pasanganku, semuanya melekat persis dalam dirinya seperti apa yang telah mama ucapkan. Lalu, bisakah kamu bicara logika? Apakah rasa nyaman bersamanya pun juga perlu dilogikakan?

Saya mengetikan semua cerita ini untuk menjadi pengingat bagaimana sekarang saya harus melangkah lebih jauh lagi secara perlahan bersamanya. Saya tahu itu tidak mudah bagi saya yang terlalu banyak pertimbangan, apalagi bukankah sudah cukup lama saya berlari dalam kebebasan meski dulu juga dalam ikatan.

Bagaimanakah kelak saya akan memulai melepas “aku” menjadi “kami”?

Aku Tidak Takut..

Peristiwa sore ini, Brisa terkunci di dalam kamar. Jendela pun tidak terbuka. Terkunci dari dalam dan tirai masih tertutup.

Oma panik karena Brisa memanggil2 mau keluar. Oma pun memanggil tante Ndut yang ternyata ketiduran. Tante Ndut ikut panik setelah tahu kemenakannya terkunci di kamar.

Lalu Oma keluar rumah mencari pertolongan, tiba-tiba dari balik pagar muncul tukang AC yang langsung menjawab, “Si kecil kekunci, bu?”

Dalam hati tante Ndut, “Si Oma pake manggil tukang AC? Kapan teleponnya?”

Sudah 10 menit berlalu Oma dan tante Ndut memberikan instruksi ke Brisa.

“Kak Icha, kuncinya copot taro di bawah pintu nih, ada tangan oma.. ” “Mana?” Icha memegang tangan oma di bawah pintu. Yahh, semakin paniklah mereka karena Brisa tidak paham.

Tukang AC pun ikut memberi instruksi kepada Brisa, pada akhirnya Brisa diminta tunggu duduk di kasur saja karena pintu akan dicongkel takut si kecil terdorong tiba-tiba. Suara mungil itu tidak lagi panik, ia tidak ikut arus memanas mereka yang mulai khawatir. Ia hanya menurut

Akhirnya tukang AC berhasil menyongkel pintu, dan terbukalah. Si kecil duduk tertawa merasa canggung karena tahu sudah menyusahkan banyak orang.

Tante Ndut menggendong si kecil dan menarik ke atas pangkuannya.

“Brisa, tidak seperti itu lagi ya.. Nanti Icha gak bisa makan, pipis, mpup, siapa yang mau bantu? Kok Icha sekarang dah bisa mainan kunci ya..? Icha bisa kunci tapi gak bisa bukanya lagi.. ”

“iyaa.. Icha gak takut kok.. Ada Ecus (Tuhan Yesus)”

“Duh iyaa, tapi Icha kan tetep belum bisa buka kunci..”

Saat tukang AC memperbaiki AC di kamar Brisa, tante Ndut bertanya kepada Oma.

“Mama, manggil tukang AC segala ya?”

“Mama gak tau tiba2 tukang AC muncul kayak ada yang manggil.”

Tukang AC pun menyahut “Emang dipanggil sama mas Adit untuk betulin AC. Tapi tadi kita lupa, bu. Eh di jalan ketemu eyangnya si kecil jadi langsung balik ke sini..”

Tante Ndut kemudian terpikirkan kejadian tadi. Ya, Brisa tidak bisa menggerakan kunci untuk membuka pintu. Tetapi Tuhan yang menjaganya sudah memanggil tukang AC ini tepat pada waktunya.

Pemuda, bangunlah kampungmu!

Ini judulnya terkesan nyuruh atau perintah, atau saran ya? >.< Tergantung dari sisi mana kamu membaca 😀 Pemuda itu termasuk pemudi ya, jadi tentunya bukan hanya untuk kalangan laki-laki saja, perempuan juga.

Saya bahas ini setelah membaca setengah halaman dari buku Merayakan Guru Bangsa, dari Kemendikbud. Tentunya, sambil berharap ada tindakan perubahan dalam cara mengajar dan membuat kurikulum.

Juga, saya teringat akan teman-teman saya yang perantauan setelah sekolah eh pada maunya balik lagi ke kota? Trus saya tanya, “kenapa, gak kerja di desa?” Beragam jawaban tapi serupa, ” sedikit peluang..”, “gak hasilin duit..”, dan lain sejenisnya.

Di dalam buku saya baca, serupa dengan pemikiran (abstrak) saya sebelumnya, mempertanyakan mengapa pelajar itu orientasinya ke kota, meninggalkan desanya?

Faktornya banyak hal, tapi yang terutama adalah pola pendidikan yang mengarahkan kehidupan ke kota, modernitas, dan sebagainya itu lebih baik. Semakin tinggi jenjang pendidikan malah dirasa semakin ingin pelajar itu pergi mencari kehidupan lebih baik ke kota. Lalu, adakah yang kembali ke kampung untuk melestarikan/ membangunnya?

Nah, setiap ada lulusan baru, bersiaplah kota menimbun banyak pekerja-pekerja baru, bahkan pengangguran. Bukan hanya soal kota, tetapi pedesaan dipaksakan untuk menjadi sebuah kota yang dikatakan itu “modern”, atau desa berpotensi untuk dieksploitasi besar-besaran dan menghancurkan kekayaan alam juga tradisi budaya yang ada. Salah satu contohnya adalah dengan tanah asal mama Aleta Baun di Molo, Nusa Tenggara Timur, ia menentang eksploitasi alam yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar karena merusak kekayaan turun menurun, bukan hanya lingkungan tapi juga tradisi budaya.

Apa yang seharusnya dilakukan?

Kenalilah potensi kampung kita. Mau itu setandus apapun tanah kelahiran, kiranya pendidikan dan asuhan orangtua mengajarkan bahwa ada potensi yang menjadi tradisi, dan itulah kekayaan unik dari tempat asal.

Pasti ada, dari pertanian, dari hasil perikanan, atau kadang hal yang tidak terduga dapat kita dapatkan yang itu bisa membangun desa juga. Salah satu contoh dari tanah kelahiran Mama Aleta Baun adalah  bahwa alam tempatnya memberikan kehidupan, dari makanan, hingga pekerjaan untuk menghasilkan kain tenunan yang indah.

Tidak ada salahnya memanggil orang-orang ahli untuk menggali apa yang perlu dilakukan bagi kemajuan desa. Atau, jangan-jangan kitalah sang ahli tersebut, dan bentuklah kerjasama tim sesuai dengan talenta masing-masing. Lho, itu kan fungsinya kita bersekolah atau mengenyam pendidikan?

Menurut feeling so sotoy saya, ke depan Indonesia tidak akan lagi kebanjiran pengangguran, atau pun sulit mencari lahan pekerjaan. Semua sama rata untuk membangun daerah masing-masing.

Lestarikan Kekayaan Tradisi. Tentu ini masih merupakan satu kesatuan dari poin di atas. Keunikan tradisi, keseimbangan dengan alam, itu yang harus dijaga. Pakailah ide kreatif kita untuk membangun tanpa harus ketinggalan jaman. Lagipula, jangan malu atau merasa tidak kekinian jika kamu hidup di desa, atau jika kamu mengurusi hal-hal yang tidak dilakukan orang kota. Eh, siapa bilang orang desa itu norak, coba deh orang kota ke desa, pasti gak kalah norak.

Sebenarnya, saya pun juga begitu. Norak kalau di desa. Saya merasa perlu untuk membangun desa, meskipun itu bukan desa saya. Tapi, jujur kan bingung apa yang harus dilakukan. Ya, saya berharap ada keberanian soal itu, seberapa beraninya saya dengan tantangan, tidak tahu potensi, harus tahu dengan lingkungan sekitar, apa yang harus saya lakukan bukan hanya bagi keluarga saya kelak, tapi juga untuk orang-orang sekampung. Tentu, ya tentu bukan hanya saya saja yang berdiri sendiri, melainkan perlu tangan-tangan orang lain dan dukungan orang terdekat.

Nah, sama-sama yuk, mari berani membangun desa.

 

 

Tuhan, Mengapa Saya Berbeda? (4)

“Wanita, inilah anakmu.. “, “Anak, inilah ibumu..”

 

Siapakah Maria, mengapa begitu meninggikannya?

Jika kamu meninggikan dan mengagungkan Ibu Maria melebihi Yesus, maka itu yang salah. Karena Maria adalah Hamba Tuhan yang juga manusia dan Yesus yang adalah Anaknya di dunia adalah Allah Pencipta yang mengambil rupa sebagai manusia.

Di sini, kami (saya, pak W, dan teman lainnya dalam kelompok belajar) melihat memang posisi Maria pun begitu istimewa, karena ia perempuan yang mau taat kepada Allah dengan pelbagai tantangan.

Perempuan dalam adat Yahudi adalah kaum rendah, jika kita membaca Perjanjian Lama, begitulah perempuan di mata adat atau iman orang kala itu. Saya yang merasa feminis ini merasa berontak, tapi bagaimana, kan Kitab Suci mencatatnya. Sudah perempuan, ia diposisikan sebagai yang ‘melawan’ kebiasaan atau hukum bisa jadi. Tapi ketaatannya itulah yang luar biasa untuk bisa dijadikan teladan iman.

 

Dari masa kelahiran Yesus

Kalau saya menafsirkannya, dari sejak ia menerima berita sukacita, yang mungkin sebenarnya menjadi kabar membingungkan bagi Maria, ia sudah taat. Ya, membingungkan bagaimana bisa ia mengandung sedangkan belum bersuami. Tanyanya kepada malaikat Gabriel begitu, tetapi jawaban malaikat, “kamu akan mengandung dari Roh Kudus..”. Saya rasa, bukan hanya cara mengandungnya saja yang begitu ajaib, tetapi Maria bisa saja berhadapan dengan hukum rajam karena hamil di luar nikah. Bahkan Yusuf pun ingin meninggalkannya karena tidak enak hati, ya tapi kita tahu bagaimana kelanjutan ceritanya. Maria pun taat dengan mengatakan, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu.”

 

Saat kehidupannya bersama Yesus    

Salah satu ayat yang dipakai umat Katolik mengapa memanjatkan permohonan melalui Maria adalah Perjamuan di Kana, yang merupakan mujizat pertama Yesus. Tafsiran Katolik melihat kedekatan Yesus dengan Maria.

Bunda Maria yang meminta kepada Yesus (sebagai perempuan atau ibu-ibu), ketika tuan rumah kehabisan anggur di pesta perkawinan. Jawab Yesus, “Mau apakah engkau, wanita? WaktuKu belum tiba.”

Terjemahan dalam KJV, Sebutan ‘wanita’ atau ‘woman’ yang dipakai kepada Maria. Sedangkan, dalam terjemahan Bahasa Indonesia, kata “ibu” yang dipakai. Orang-orang seringkali mengartikannya sebagai ibu kandung, bukan ibu yang artinya lebih luas yakni sebutan kepada wanita dewasa. Mengapa Yesus menyebutnya wanita, adapun tafsiran kami memahami bahwa Yesus ingin menegaskan Siapa DiriNya.

Setelah Yesus menjawab demikian, Ibu Maria malahan meminta kepada pelayan-pelayan pesta untuk menuruti apa yang Yesus katakan. Saya pribadi melihatnya, “ih, kok Ibu Maria maksa banget ya? Padahal sepertinya Yesus menolak tuh..”

Tetapi, jika dari sudut pandang lainnya, itu merupakan bukti iman Maria. Maria percaya Anaknya akan menolong. Ingat akan ayat tentang doa permintaan: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Matius 7:7). Maria melakukannya karena percaya.

Adapun tafsiran lain yang mengatakan bahwa Yesus melakukannya, karena Maria adalah ibuNya tentu sebagai orang terdekatNya.

 

Saat kematian Yesus hingga turunnya Roh Kudus

Perasaan campur aduk itu yang pasti dirasakan Maria melihat Anaknya disiksa hingga mati tanpa  satu kesalahan apapun. Maria tetap mendampingi Yesus, ia mengikuti jalan salib yang ditempuh Anaknya. Ibu Maria tidak pingsan atau bahkan tidak menolak, Ibu Maria tahu resiko apa yang akan ia hadapi dari saat ia menerima kabar mengandung Yesus. Segala pergumulan itu ia rasakan tanpa menghujat Allah.

Kalimat “Wanita, inilah anakmu.. “, “Anak, inilah ibumu..” adalah salah satu bukti Yesus masih memerhatikan orang lain ketika dalam penderitaan. Tentu, tak terlupa ibuNya. Maria saat itu sudah janda. Perempuan berstatus janda, apalagi ia habis keturunan (karena setelah Yesus mati maka tidak ada lagi ahli warisnya secara biologis) dalam adat Yahudi posisinya sangat terabaikan sekali. Maka dari itu Yesus menitipkan Ibu Maria kepada Yohanes (Rasul), muridNya dan saudara sepupuNya (secara biologis). Yohanes adalah murid termuda diantara kedua belas rasul, dengan ini pasti Yohanes benar-benar menjaga Maria sedari muda (berumur panjang).

Kalimat ini sekaligus kalimat perpisahan Yesus dengan Maria, yang dengan kata lain Yesus menyatakan diriNya sebagai Mesias, Juru Selamat, kembali sebagai Allah Pencipta (karena memang Ia sudah ada sejak semula, bdk dengan pertemuan Musa yang melihat punggung Allah – Keluaran 33:21-23). Semenjak itu juga, Maria diterima sebagai anggota di dalam rumah murid-murid Yesus.

Melihat kisah Maria, tentu ada keterkaitan emosional antara Yesus sebagai Anak dan Maria sebagai IbuNya. Umat Katolik mengimani, berdoa kepada perantara Maria seperti punya “jalur khusus” atau privilege untuk menyampaikan doa langsung kepada Yesus.  Penerimaan Maria diantara para murid Kristus menjadikannya sebagai Bunda Gereja (Gereja yang adalah persekutuan orang-orang kudus).

Saya memahami hal tersebut, dan cukup terheran-heran. Ternyata saya kurang membaca. Lalu saya masih merasa sedih, “Mengapa saya masih sulit menerima berdoa melalui perantaraan orang-orang kudus, pak?”

Jawabnya, “Jangan memaksakan. Ikuti saja apa yang kamu imani, toh kamu tidak menyangkal Kristus. Jangan pula menolak keinginan hati jika ingin berdoa rosario, jika ada keinginan itu tentunya.”

Saya melanjutkan, “Saya pun sebenarnya tidak menutup mata, saya tahu bahwa ada penampakan-penampakan Bunda Maria di beberapa tempat dan berkali-kali. Saya tahu bahwa itu bukan penampakan saksi tunggal, tetapi banyak orang.”

Pak W menjawab, “Begitulah iman Kristiani, kita beriman juga karena adanya saksi-saksi iman. Ada orang lain yang menyaksikan mujizat, kehidupan Kristus, sehingga sah dinyatakan itu benar. Bukan hanya 1 orang tetapi dilihat banyak orang. Sama seperti penampakan Maria, sebenarnya Gereja Katolik tidak langsung mengiyakan jika hanya satu orang, tetapi jika banyak orang bahkan sampai jutaan itu akan diselidiki dan ditelaah apa yang sedang dan akan terjadi.”

 

Kiranya, berbagi cerita mengenai sebagian perjalanan iman saya kali ini bisa bermanfaat bagi banyak orang. Saya tahu saya masih kesulitan menerima pemahaman doa kepada orang-orang kudus di surga karena kekhawatiran saya pribadi tentang salah atau benar. Tetapi bersukacitalah kalian yang memang sudah percaya, dan tetaplah sukacita jika kamu belum percaya tetapi tetap punya iman akan Kristus. Kiranya kita dapat saling mendoakan satu sama lain di dalam Kristus Yesus.

 

Tuhan, Mengapa Saya Berbeda? (3)

Saya bingung mencari judul lainnya, meskipun kali ini saya sudah merasa tidak berbeda, saya pun sama dengan banyak orang yang sedang berproses dan belajar.

Melanjutkan dua tulisan sebelumnya, mengenai doa melalui perantara orang-orang kudus yang sudah meninggal, saya masih terus bertanya dan mencari dengan bantuan beberapa orang. Mungkin adapun yang berdoa saja cukup bagi saya, dan adapula yang membantu saya menjelaskan secara iman Katolik.

Salah satunya ialah pembimbing rohani di kelompok belajar spritualitas Kitab Suci, Emmaus Journey. Pembimbing saya ini, sebut saja Pak W, orang kedua (yang Katolik) yang memahamin pergumulan saya. Beliau cerita bahwa ia pun pernah mempertanyakan doa-doa tersebut, dan bagaimana posisi Maria. Tentu, dengan senang hati ia membagikan pengetahuan dari pengalaman imannya tersebut.

Beliau pun mengatakan bahwa, bukan hanya saya saja yang orang Katolik tapi mempertanyakan hal tersebut, “Wajar, karena kita patut belajar, dan bukanlah masalah penting asal tidak menolak Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Jangan terlalu merasa berdosa, karena pemahaman memang berbeda-beda, dan semua orang berproses. Nanti akan ada saatnya kamu bisa benar-benar menerima ‘hadiah’ itu. Nikmati saja perjalanannya.”

Ada beberapa bagian yang akan saya bagikan di sini, berdasarkan bantuan jawaban dari Pak W. Tujuan saya pribadi jelas saya bukan hanya ingin tahu, tapi jika Anda yang membacanya merasa bermanfaat dalam hal lain (dalam arti positif) mengapa tidak?

 

Mengapa umat Katolik berdoa melalui perantaraan orang-orang Kudus? Apakah ada di Alkitab?

Pertama adalah Roma 8:38-39 yang saya dapatkan dari buku panduan Emmaus Journey, dan saat itu yang ditunjukan Pak W kepada saya. Bahwa bahasan tentang ayat itu seolah memang jawaban bagi pergumulan saya.

Kedua, beliau menjelaskan bahwa Katolik percaya doa perantara orang-orang kudus yang sudah meninggal merujuk kepada penghormatan kepada bapa-bapa iman, misal Yusuf, seperti yang dilakukan oleh Bangsa Israel. Ini yang dikenal dengan penghormatan relikui, sebagai penjaga iman.

Sejarah yang tertulis dalam Alkitab mencatat bangsa Israel membawa tulang belulang Yusuf saat ia keluar dari Mesir, dan di beberapa kisah lainnya ada tulang-tulang nabi Elisa, serta dalam Perjanjian Baru ada beberapa tulang-tulang martir seperti Paulus dan Petrus, serta dari sumber lainnya ada St. Polikarpus. Tulang maupun abu tersebut diikut sertakan dalam kegiatan penting, dan ada juga yang disimpan sebagai pengingat atau penjaga iman akan Allah.

Jelasnya, Bangsa Israel membawa tulang-tulang Yusuf dan menghadirkan dalam setiap ‘rapat’ karena mengingat iman Yusuf kepada Allah Israel.

Jadi, umat Katolik yang melihat tradisi Bangsa Israel ini menjadikan orang-orang kudus tersebut sebagai penjaga iman akan Tuhan.

Kedua hal tersebut digabungkan dan menganggap bahwa kehadiran orang-orang kudus tersebut masih ada bersama dalam pertumbuhan iman.